Beberapa hari yang lalu saya sempat membaca berita cepat berjalan di tivi kalau pemerintah bersepakat untuk tidak lagi memberitakan update positif Covid-19 terbaru. Padahal disaat yang bersamaan WHO sudah membuat pernyataan bahwa laju penambahan jumlah kasus penularan Covid-19 memperlihatkan grafik yang terus menanjak.[1] Apa lagi di masa kenormala baru ini. Banyaknya kesimpangsiuran berita soal penemuan obat alternatif Covid-19, soal virus Corona adalah konspirasi dan sebagainya yang membuat sebagian masyarakat menjadi abai dengan protokol kesehatan. Oleh sebab itu tidak heran jika sekarang ini makin bertambahlah kasus pasien Covid-19.
Diawal-awal pemberitaan mengenai virus ini saya termasuk golongan yang santai. Saya tidak mengalami “panic buying” seperti yang dialami kebanyakan orang. Namun saya tidak bisa berbohong bahwa dengan makin melihat media sosial dan berita televisi diawal-awal bulan Maret kemarin, ada sedikit kecemasan yang hinggap di hati saya. Percaya atau tidak, di bulan-bulan April hingga Mei lalu saya sempat mengalami minggu-minggu tidak bisa tidur, dan hari-hari selanjutnya baru bisa tidur setelah pukul 05.00 dan bangun lagi pukul 08.00. Saya bisa tiba-tiba menangis, tidak bisa konsentrasi saat membaca buku dan mengalami hari-hari paling tidak produktif di masa-masa darurat pandemi kemarin.
Barulah sejak akhir bulan Juni kemarin saya memberanikan diri untuk bertemu dengan teman-teman saya. Tentunya dengan protokol kesehatan yang dijaga. Saya sudah mulai bisa produktif lagi. Dalam masa-masa kenormalan baru inilah saya mulai mencari-cari informasi mengenai segala perilaku aneh saya yang muncul bersamaan dengan pandemi dibulan-bulan lalu itu. Ternyata stress yang saya dan kita alami selama dirumah saja kemarin itu dikenal dengan istilah “Cabin Fever”.
Istilah “Cabin Fever” atau “demam kabin” menggambarkan gejala psikologis yang mungkin dialami seseorang ketika mereka terbatas di rumah untuk waktu yang lama. Dengan orang-orang di seluruh dunia terkunci karena pandemi COVID-19, demam kabin mungkin lebih umum dan menyebar dari sebelumnya. Biasanya orang mungkin harus terpaksa tinggal di dalam rumah karena kondisi cuaca bersalju atau es. Negara-negara yang tidak mengalami musim dingin ini tentunya tidak akan terkena demam kabin. Tapi saat ini, orang-orang di seluruh dunia mengalami demam kabin karena secara fisik terisolasi dalam menanggapi pandemi COVID-19.[2]
Tanda-tanda jika kita terkena demam kabin mencakup perasaan kebosanan, lekas marah, gelisah, tidak sabaran, kecemasan, kurang motivasi, kesepian, keputusasaan, bahkan depresi. Meskipun demam kabin bukanlah penyakit psikologis yang diakui, efek emosional, fisik, dan perilakunya nyata.[3]
Efek dari demam kabin sendiri termasuk perasaan tidak mampu mengikuti rutinitas harian, sulit tidur, terlalu banyak tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan mengalami perubahan kebiasaan. Kebiasaan buruk seperti minum terlalu banyak alkohol juga bisa muncul seiring dengan kecemasan yang kita rasakan ketika demam kabin menyerang.[4]
Penyebab deman kabin ini bisa muncul adalah karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial dan orang akan cenderung merasa berfungsi lebih baik ketika mereka terhubung satu sama lain. Kita tahu jika selama pandemi COVID-19, banyak orang yang menyendiri dan beradaptasi dengan pembatasan tempat tinggal. Pergeseran dari cara hidup yang aktif secara sosial ke cara yang lebih terbatas dan terisolasi bisa cukup untuk memicu demam kabin.[5]
Sebenarnya WHO sudah menerbitkan buku panduan untuk kita melewati masa-masa sulit stress dan depresi di masa pandemi Covid-19 kemarin. Buku tersebut berjudul “Doing What Matters in Times of Stress”.

Merupakan sebuah elektronik buku dalam bentuk pdf dengan penuh gambar dan ilustrasi yang berisi panduan untuk memanajemen perasaan stress. Entah karena promosi tentang buku panduan tersebut yang kurang masif atau saya yang baru punya pikiran jernih sekarang-sekarang ini, saya baru menemukan buku tersebut beberapa hari yang lalu. Terdengar sangat terlambat ya jika dibaca saat sudah memasuki masa kenormalan baru ini. Tapi lebih baik terlambat kok daripada tidak sama sekali. Cheers!
Depok, 11 Agustus 2020
Anisa Suci Ra.
[1] https://tirto.id/fUcl , diambil dari artikel yang berjudul, “Update Corona Dunia 28 Juli 2020 & Peringatan WHO soal Laju Pandemi”. Diakses pada 1 Agustus 2020 pukul 10.23 WIB.
[2] https://www.medicalnewstoday.com/articles/cabin-fever#causes , diambil dari arikel yang berjudul “What To Know About Cabin Fever”, diakses pada 30 Juni 2020 pukul 13.45 WIB.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ibid.
Mantiiip